• Minggu, 27 November 2022

Prof Ahmad Rofiq Ungkap Hal Baru dari Museum Jenang GusJiGang , setelah Pecahkan Rekor Muri

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:59 WIB
Prof Ahmad Rofiq (kanan) Ungkap Hal Baru dari Museum Jenang GusJiGang setelah Pecahkan Rekor Muri. (Dok pribadi)
Prof Ahmad Rofiq (kanan) Ungkap Hal Baru dari Museum Jenang GusJiGang setelah Pecahkan Rekor Muri. (Dok pribadi)

 

KLIKSEMARANG.COM - Museum Jenang GusJiGang pada 16 September 2022 mriah penghargaan sebagai pemecah rekor Museum Jenang Pertama di Indonesia oleh Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri). Penganugerahannya digelar pada Kamis 22 September 2022 di Galeri Museum Rekor-Duia Indonesia Mall of Indonesia Lt. LG- Jl. Boulevard Barat, Kelapa Gading Jakarta 14240, diterima langsung oleh Direktur Utama Mubarok Food Cipta Delicia, Kyai Muhammad Hilmy.

Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof Dr H Ahmad Rofiq MA mengungkapkan, pada Sabtu 1 Oktober 2022, dia mendapat kehormatan untuk memberikan greeting atau ucapan selamat dan sukses atas diraihnya prestasi tingkat dunia tersebut, dan dibuat di "studio-museum" tersebut.

Baca Juga: UPDATE! Mahfud MD Beberkan Fakta-Fakta Penyebab Tragedi Sepak Bola di Malang hingga 127 Orang Tewas

Setelah itu, Prof Ahmad Rofiq diwawancarai oleh dua orang kru Centini-TV, terutama tentang Museum GusJiGang tersebut. Wawancara seputar apa filosofi dan keberadaan museum yang merupakan "wisata-edukasi" agar warga Kudus khususnya dan para pengunjung pada umumnya, untuk dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari Syekh Jangung (Saridin), Syekh Ja’far Shadiq/Sunan Kudus (Sang Penebar Islam Ramah), Syekh Raden Umar Said/Sunan Muria (Sunane Wong Cilik), Kyai Telingsing/Tee Ling Sing (Ulama perintis Ukir Kudus), KH. Muhammad Arwani Amin (Penabur Benih Al-Qur’an), KH. Raden Asnawi (Ulama Nasionalis pendiri NU), KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi (Maestro Falak Nusantara), RMP. Sosrokartono (Sang Polyglot Kelas Dunia), dan masih banyak lagi lainnya.   

"Museum Jenang kelas dunia ini filosofinya adalah GusJiGang. Gusjigang atau 'baGus' – ngaJi – dan daGang, sebagai nilai kearifan local yang sangat mendasar. BaGus akhlaknya, rajin mengaJi – kitab kuning dan ilmu keagamaan yang memadai, dan daGang sebagai mata pencaharian. Museum tersebut merupakan hasil dari proses kreatif dan innovatif Mas Hilmy, 'santri' dan berdarah pedagang, dalam mengolah rasa dan spirit filosofis-sufistik," ungkap Prof Ahmad Rofiq, dilansir Kliksemarang.com melalui keterangan tertulis, Minggu 2 Oktober 2022.

Prof Ahmad Rofid yang juga Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah ini menambahkan, Rasulullah Saw juga memberikan contoh dan teladan kepada umatnya, untuk berdagang. Beliau bersabda: “’Alaikum bi t-tijarah fa inna fiihaa tis’atu a’syari r-rizqi” artinya “berdaganglah kamu sekalian, karena di dalamnya adalah 9/10 rizqi”.

Baca Juga: Batik Semarang Berkembang Sangat Inovatif, Tetap Mengacu Kearifan Lokal dan Motif Kontemporer

"Kala saya berkesempatan mengunjungi Museum Jenang Mubarok pada 5 Agustus 2020, inisiasi Mas Kyai Hilmy, generasi ketiga-Jenang 33 sudah mendunia. Sudah sangat banyak memang para tokoh-tokoh nasional yang berkunjung di museum ini. Bahkan para tokoh yang berkunjung, pun diabadikan di dalam tayangan elektronik yang setiap hari – kecuali hari libur – bisa disaksikan di ruang rapat," ungkap Prof Ahmad Rofiq.

Halaman:

Editor: Arby Yan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X