• Minggu, 27 November 2022

Perempuan Pesantren Bergerak, Bu Nyai : Bantu Pelaku dan Korban agar Tidak Tinggalkan Tauma

- Minggu, 6 November 2022 | 20:16 WIB
Perempuan pesantren bergerak, Bu Nyai : bantu pelaku dan agar tidak tinggalkan tauma
Perempuan pesantren bergerak, Bu Nyai : bantu pelaku dan agar tidak tinggalkan tauma

KLIKSEMARANG.COM –  Perempuan pesantren bergerak untuk membantu menuntaskan persoalan yang terjadi di Pondok Pesantren  akhir-akhir ini.

Berbagai masalah  yang menimpa dari kekerasan dan perilaku asusila di Pondok Pesantren membuat perempuan pesantren “Bu nyai “ harus turun tangan.

Bu nyai harus bisa menetralisir keadaan dan membantu baik pelaku dan korban agar tidak tinggalkan trauma.

Baca Juga: 7 Fakta Dibalik Keunikan Orang Kreatif, Nomor 3 Paling Unik

Pola asuh pondok harus positif agar para santri terlindungi dan tidak ada trauma yang mendalam jika muncul masalah - masalah tersebut.

Kekerasan sebagai persoalan laten seringkali muncul karena pilihan model pengasuhan yang kurang tepat. Padahal pengasuhan menjadi ciri Pondok Pesantren, bahkan hanya Pondok Pesantren yang menyebut pemimpinnya sebagai Pengasuh.

Selain itu, persoalan perilaku asusila pada santri putri. Bu Nyai melihat perhatian publik cenderung kepada pelaku. Pelaku dihujat, pemerintah turun tangan, norma hukum ditegakkan. Ketika pelaku dijatuhi hukuman berat, masyarakat merasa sudah puas.

Padahal yang harus lebih diperhatikan adalah korbannya. Si korban sudah pasti menjadi terganggu kegiatan belajarnya, kacau jadwal ngajinya. Juga menderita tekanan batin alias trauma kejiwaan yang sangat berat.

Pemerintah maupun LSM, sangat terbatas aksesnya memberi advokasi. Satu-satunya pihak yang paling dekat pada masalah tersebut dalam lingkungan tinggal korban yakni pondok pesantren adalah Ibu Nyai.  Pengasuh pesantren putri inilah yang kemudian hadir untuk berusaha mengatasi masalah tersebut sebagai seorang ibu yang berjuang selama dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu untuk anak-anaknya dalam hal ini santri-santri putrinya.

Halaman:

Editor: Dwi Widiya

Sumber: PBNU

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X