• Selasa, 4 Oktober 2022

Disiplin Waktu Menjemput Rizqi dan Tawakkal

- Rabu, 21 September 2022 | 14:57 WIB
Prof Ahmad Rofiq (Kliksemarang.com/Dok pribadi)
Prof Ahmad Rofiq (Kliksemarang.com/Dok pribadi)



KLIKSEMARANG.COM - Orang-orang tua kita sering menasehati, “urip kuwi ra usah ngoyo, sakmadiyo wae, lahir, rezeqi, jodoh, mati kuwi wis ono taqdire”.

Artinya “hidup itu tidak usah ambisius, sewajarnya saja, lahir, rizqi, jodoh, mati, itu sudah ada takdirnya”.

Nasihat bijak tersebut, tentu tidak salah, tetapi agama sendiri memerintahkan untuk bekerja untuk urusan akhirat seakan-akan kalian mati besok pagi, dan bekerjalah untuk urusan dunia, seakan-akan kalian hidup selamanya”.

Baca Juga: VIRAL! Seorang Anak Jadi Korban Bullying oleh Remaja Berseragam Sekolah, Diinjak-Injak sampai Nangis-Nangis

Siti Aisyah ra meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda: “Berangkatlah kalian pagi-pagi untuk mencari rizqi dan kebutuhan hidup, karena berangkat pagi-pagi itu penuh dengan keberkahan dan keberhasilan.” (Riwayat Ad-Dailamy, Al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khithab, juz 2, h.9).

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengatakan: “Kita hanya wajib berusaha, hasil akhirnya sudah ada yang menentukan, yaitu Allah SWT. Dengan demikian jangan takut, siapa jodoh kita, apakah kita akan mempunyai keturunan, apakah kita bisa makan, apakah kita akan bisa menyekolahkan anak, apakah kita akan mempunyai pekerjaan?” (Ayang Utriza Yakin, “Usaha dan Pasrah” dalam Ibnu Athaillah As-Sakandari, Kitab At-Tanwir: Istirahatkan Dirimu dari Kesibukan Duniawi” (2021: xxi).

Tidak mudah memang memulai untuk mengikuti cara hidup Syeikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari, yang dikenal sebagai tokoh ulama sufi, yang karyanya menjadi sangat dikagumi dan menjadi kajian-kajian tasawuf di banyak pesantren di Indonesia. Karena selagi kita masih sangat sibuk dengan urusan duniawi, kita akan trerus terperangkap dengan “bujuk-rayu” dan “iming-iming gemerlap materi-duniawi” yang sering provokatif, dan bahkan melupakan seseorang akan marwah dan martabatnya sebagai tokoh yang menduduki jabatan keulamaan sekalipun.

Baca Juga: Seorang Pelajar di Sidoarjo Tewas Dianiaya Temannya, Tiga Tersangka Terancam Hukuman Penjara 15 Tahun

Di antara jebakan awal kedudukan duniawi itu, adalah praktik menghalalkan segala macam cara untuk dapat menduduki jabatan itu. Para politisi sering menyebutnya dengan “virus-machevialisme” yang siap membabat habis siapapun yang diduga atau berpotensi dapat menghalanginya. Baik itu dilakukan secara langsung atau tidak langsung, bahkan tidak segan-segan menyebar fitnah, intrik, dan hasud dan kedengkian. Tampaknya seseorang yang sudah terpapar “virus-kedengkian” ini, tak mudah dan bahkan tidak bisa diselesaikan. Apakah dia menganalogikan orang lain sama seperti dirinya, manakala mendapat kesempatan, ia akan melakukan korupsi, atau bahkan melakukan tindakan bak pukat harimau.

Sebagai seorang manajer, dia akan menjadi manajer yang baik, manakala dia bagi habis pekerjaannya. Tetapi lain, justru semua pekerjaan yang pada mulanya sudah terdistribusi dengan baik, semua diambil alih, menjadi seperti manajemen “one man show”.

Halaman:

Editor: Arby Yan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X